Lewati ke konten

Transportasi Berkelanjutan

Empat dari delapan kota di situs ini belum punya angka yang boleh dikutip

Jakarta terakhir disurvei pada 2018. Bandung, Surabaya, dan Semarang belum kami temukan survei pembagian modanya sama sekali. Ini bukan catatan kaki teknis — ia menentukan kebijakan apa yang bisa dievaluasi dan mana yang hanya bisa diperdebatkan.

Situs ini memuat delapan kota. Empat di antaranya punya pembagian moda yang bisa ditelusuri ke dokumen sumbernya: Oslo, Bogota, London, dan Jakarta. Empat sisanya — Bandung, Surabaya, Semarang, dan Singapura — belum. Nilai yang tampil di halaman mereka ditandai belum bersumber, dan tanda itu bukan formalitas: angkanya tidak boleh dikutip ke mana pun.

Halaman metodologi memuat tabelnya secara lengkap. Tulisan ini soal apa artinya.

Angka Jakarta pun sudah berumur

Pembagian moda Jakarta

Survei rumah tangga JUTPI 2, dikerjakan JICA bersama Bappenas.

  • Aktif17%
  • Angkutan umum8,2%
  • Sepeda motor62,8%
  • Mobil pribadi12%

Angka di atas berasal dari survei 2018. Delapan tahun sudah lewat sejak itu — dan delapan tahun tersebut mencakup pandemi berikut perubahan pola kerja yang menyertainya, serta pembukaan MRT fase pertama dan LRT Jabodebek. Semuanya peristiwa yang secara langsung memindahkan orang antarmoda.

Artinya pangsa angkutan umum Jakarta hari ini bisa jadi lebih tinggi daripada yang tertera. Bisa juga tidak. Yang jelas, tidak ada yang bisa memastikannya dari data publik yang tersedia, dan itu persoalan yang lebih besar daripada kelihatannya.

Kenapa ini menghambat

Pembagian moda adalah penyebut hampir semua klaim kebijakan transportasi. Kalimat seperti "koridor baru ini memindahkan sekian persen pengendara motor ke bus" tidak bisa diperiksa tanpa mengetahui berapa persen pengendara motor yang ada sebelum dan sesudahnya. Tanpa penyebutnya, klaim apa pun berhenti sebagai pernyataan, bukan temuan.

Konsekuensinya berlapis:

  • Target tidak bisa dinilai. Dokumen perencanaan daerah rutin memuat target pangsa angkutan umum. Tanpa pengukuran berkala, target itu tidak pernah diketahui tercapai atau tidak.
  • Perbandingan antarkota jadi menyesatkan. Membandingkan kota bersurvei dengan kota berestimasi menghasilkan selisih yang mengukur mutu datanya, bukan mutu kebijakannya.
  • Investasi sulit diprioritaskan. Keputusan membangun koridor di sini dan bukan di sana bertumpu pada perkiraan perpindahan moda. Perkiraan itu butuh garis dasar.

Pembandingnya menunjukkan apa yang mungkin

Pembagian moda London

Travel in London, laporan tahunan Transport for London.

  • Aktif30,3%
  • Angkutan umum32,8%
  • Sepeda motor1,3%
  • Mobil pribadi34,6%
  • Lainnya0,9%

London menerbitkan pembagian modanya setiap tahun dalam satu seri yang konsisten sejak awal 2000-an. Bogota menjalankan Encuesta de Movilidad secara berkala dan mempublikasikan hasilnya. Keduanya bukan kota berpendapatan tinggi ketika mulai — Bogota memulai serinya justru ketika sedang membangun TransMilenio, karena datanya dibutuhkan untuk mengevaluasi apa yang sedang dibangun.

Perbedaannya bukan pada teknologi survei, yang sudah lama mapan dan tidak mahal. Perbedaannya pada keputusan untuk mengulanginya secara berkala dan menerbitkan hasilnya dalam bentuk yang bisa dibaca orang di luar instansi.

Yang akan dilakukan situs ini

Sel yang belum bersumber akan tetap ditandai belum bersumber. Ia tidak akan diisi estimasi, tidak akan diisi angka dari berita yang mengutip berita lain, dan tidak akan diisi hasil pemodelan yang disajikan seolah hasil pengukuran.

Kalau Anda mengetahui survei pembagian moda untuk Bandung, Surabaya, Semarang, atau data terbaru Jakarta — beserta dokumen sumbernya, bukan kutipannya — halaman tentang memuat cara menghubungi kami. Sel kosong yang terisi berikut sumbernya adalah kontribusi paling berguna yang bisa diberikan ke situs ini saat ini.